http://pokerweb.online http://indonesiaweb.poker http://caramaincapsasusun.org http://agentaruhan.poker http://pakarjudionline.com http://pendaftaran.poker http://agenonline.poker http://caramaincapsasusun.co http://domino-99online.com http://poker-terpercaya.net http://daftarpokerdewa.net http://idnplay-poker.net http://daftarpokerdewa.net http://idnplay-poker.net http://maupokerindo.com http://tanpabot.poker http://mainkartupoker.com http://idnplayceme.com http://kingpoker.org

Aussiet Blog

General Blog Info

Penjualan Makanan Dan Minuman Merosot Pada Warga Dengan Gaya Hidup Mewah

Gabungan dari Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) telah memperkirakan akan penjualan makanan dan minuman atau mamin akan turun menjadi 5 persen pada Natal dan tahun baru di 2018. Hal ini seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia dan karakteristik generasi milenial yang cepat bosan. Ketua Lazim GAPMMI, Adhi S. Lukman menyuarakan, potret penjualan makanan dan minuman di Desember ini yang tidak menunjukkan kenaikan luar lazim seperti tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan ada peristiwa Natal dan Tahun Baru, penjualan bahkan kian mengecil.

“November sih mulai membaik dibanding tiga bulan sebelumnya, melainkan Desember ini masih stabil, tidak ada gejolak kenaikan luar lazim. Di tahun – tahun baru-baru ini ini, Lebaran, Natal, dan tahun baru tidak terlalu signifikan gejolaknya,” ujar dia dikala berbincang, Jakarta. Berdasarkan Adhi, permintaan produk makanan dan minuman di Natal dan tahun baru ini konsisten tumbuh, melainkan tidak setinggi tahun lalu. Berdasarkan data, dia menyebut, penjualan makanan dan minuman di periode Lebaran 2016 mencapai lebih dari 30 persen, meskipun Natal dan Tahun Baru sekitar 15 – 20 persen dibanding hari-hari biasanya.

“Akan tetaapi pada Lebaran tahun 2017, penjualan hanya 5 persen di atas rata-rata. Data Nielsen bahkan sama penjualan di ritel dari 38 persen, turun jadi 28 persen, sekarang tinggal 5 persen. Sedangkan Natal dan tahun baru ini pergerakannya akan mirip, sekitar 5 persen di atas rata – rata,” keluhnya. Lebih jauh dia membeberkan, penyebab merosotnya penjualan produk makanan dan minuman meskipun ada peristiwa spesial sebab perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia. Pada dahulu, sambung Adhi, membawa makanan dan minuman, adalah biskuit, camilan, sirop dikala mudik adalah suatu kemewahan. Termasuk memberi parsel untuk handai taulan. Akan melainkan, sekarang semua berubah.

“Kini ini telah tidak, orang lebih milih memberikan hadiah hand phone ke ayah dan ibu atau buah hatinya. Seandainya makanan danminuman, bisa beli di minimarket sebab distribusi sekarang makin merata ke desa,” tutur Adhi. Di samping itu, lanjutnya, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah agak menurun. Mereka hanya melakukan pembelian pada dikala mendapatkan gaji. Sementara kelas menengah ke atas lebih bersuka cita menaruh uangnya, sehingga tabungan di bank di atas Rp 2 miliar meningkat.

“Pada dikala gajian di tanggal 25-5, penjualan ritel meningkat, lalu turun lagi. Namun untuk yang menengah ke atas, makin selektif belanja. Taktik menunjukkan ada kaitan dengan pola gaya hidup yang telah betul-betul berubah,” paparnya. Perubahan hal yang demikian, Adhi mengakui, harus diantisipasi para pengusaha. Salah satunya membikin terobosan temuan produk baru yang cocok dengan musim di Indonesia. Pandangan hal yang demikian dilaksanakan perusahaan makanan dan minuman di Jepang yang menyesuaikan dengan empat musim.

” Di Negara Jepang, setiap musim ada produk yang berbeda sehingga penjualan mereka lebih stabil sepanjang tahun. Seandainya ini harus dibawa ke Indonesia, kita harus cari temuan produk yang cocok di musim kemarau dan hujan, jadi tidak lagi menginginkan seasonality, sebab generasi milenial sekarang cepat bosan dan loyalitasnya rendah,” tutur dia. Adhi berkeinginan, penjualan makanan dan minuman terdorong naik pada tahun depan. Penyelenggaraan Pilkada juga diharapkan akan bisa memberi angin segar bagi pengusaha. “Pilkada bagus, dan saya optimistis bisa menjadi tambahan untuk penjualan kita. Seandainya tahun-tahun lalu, Pilkada bisa mendongrak penjualan 10-15 persen,” tutup Adhi.

Tagged:

You Might Also Like